Alasan kenapa berhenti menggunakan Upwork
Pagi itu saya bangun dan membuka laptop seperti biasa. Kopi hitam sudah di meja, udara Jakarta masih sedikit sejuk sebelum matahari naik penuh. Saya buka browser, ketik upwork.com, dan masukkan email serta password yang sudah hafal di luar kepala.
Layar merah. Pesan singkat yang tidak pernah ingin dilihat siapapun:
"Your account has been suspended."
Tidak ada penjelasan detail. Tidak ada email peringatan sebelumnya. Tidak ada kesempatan untuk klarifikasi terlebih dahulu. Hanya layar merah dan kalimat itu.
Saat itu ada dua proyek aktif yang sedang berjalan. Ada pembayaran yang belum saya cairkan. Dan ada proposal yang baru saya kirim kemarin dengan harapan bisa dapat klien baru bulan itu.
Semua hilang dalam satu klik dari pihak mereka.
Tiga Tahun di Upwork: Naik Turun yang Melelahkan
Sebelum cerita tentang suspensi itu, biarkan saya mundur dulu.
Saya mulai di Upwork sekitar tiga tahun sebelum kejadian itu. Waktu awal, saya excited bukan main. Platform internasional, klien dari Amerika dan Eropa, bayaran dalam dolar. Untuk freelancer copywriter dari Jakarta, itu terasa seperti membuka pintu ke dunia yang berbeda.
Tahun pertama cukup menjanjikan. Saya dapat beberapa klien dengan review bagus, Job Success Score saya naik ke 92%, dan saya mulai berpikir bahwa Upwork bisa jadi tulang punggung penghasilan freelance saya jangka panjang.
Tapi di tahun kedua, sesuatu mulai berubah.
Penghasilan yang Tidak Pernah Bisa Diprediksi
Masalah pertama yang saya rasakan bukan suspensi — tapi ketidakkonsistenan penghasilan yang makin parah.
Bulan ini dapat tiga proyek sekaligus, bulan depan tidak ada sama sekali. Tidak ada pola yang bisa saya andalkan untuk perencanaan keuangan. Saya pernah menghasilkan setara Rp15 juta dalam sebulan dari Upwork, lalu dua bulan berikutnya nyaris nol meski saya kirim proposal setiap hari.
Penghasilan dari Upwork terasa seperti naik ojek di Jakarta saat hujan lebat — kadang sampai, kadang tidak, dan tidak pernah bisa dipastikan kapan.
Yang lebih frustrasi: saya tidak pernah tahu variabel mana yang berubah. Apakah algoritma pencarian berubah? Apakah klien sudah punya orang tetap? Apakah profil saya kalah bersaing dengan freelancer dari negara lain yang pasang harga lebih murah?
Tidak ada jawaban. Hanya ketidakpastian yang harus saya terima setiap bulannya.
Biaya Connect yang Menguras Tanpa Jaminan
Kalau kamu belum tahu, Upwork menggunakan sistem "Connects" — semacam kredit yang harus kamu beli untuk melamar pekerjaan. Setiap proposal butuh 6–16 Connects tergantung ukuran proyeknya.
Di awal, ini terasa wajar. Tapi lama-lama, saya mulai menghitung berapa uang yang saya buang untuk proposal yang bahkan tidak dibaca.
Ini yang terjadi dalam satu bulan yang saya catat dengan detail:
- Saya kirim 22 proposal
- Total Connects yang digunakan: sekitar 180 Connects
- Biaya untuk 180 Connects: sekitar $18 atau Rp280.000-an
- Proposal yang dibalas: 3
- Proyek yang berhasil: 1
Satu proyek dari dua puluh dua proposal. Dan saya harus bayar hanya untuk hak melamar, belum tentu dapat proyeknya.
Ini bukan investasi — ini judi dengan persentase menang yang makin kecil.
Di tahun-tahun sebelumnya, tingkat respons masih lebih baik. Tapi makin banyak freelancer masuk ke Upwork, makin sengit persaingannya, dan makin kecil kemungkinan proposal saya dilirik. Sedangkan harga Connects tidak turun — justru sistem terus diperbarui dengan cara yang semakin menguntungkan platform, bukan freelancer.
Menunggu Berbulan-bulan Tanpa Hasil
Ada periode — saya tidak akan lupa ini — di mana saya aktif di Upwork selama hampir tiga bulan berturut-turut tanpa satu pun proyek yang berhasil ditutup.
Bukan karena tidak mencoba. Saya perbarui profil, ganti foto, tulis ulang overview, riset proposal orang lain yang berhasil dan coba adaptasi pendekatannya. Saya ikuti semua saran di forum komunitas Upwork.
Tapi tetap tidak ada.
Saat itu saya sudah mulai bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan profil saya secara teknis — apakah ada penalti tersembunyi, apakah Job Success Score saya turun karena sebuah kontrak yang diakhiri lebih awal oleh klien (yang sebenarnya bukan salah saya), atau apakah algoritmanya memprioritaskan akun dengan aktivitas pembelian Connects yang lebih tinggi.
Yang paling menyakitkan bukan gagalnya — tapi tidak tahu mengapa gagal, dan tidak ada yang bisa ditanya.
Support Upwork sangat terbatas untuk freelancer. Kebanyakan jawaban yang saya dapat dari tim mereka adalah template copy-paste yang tidak menjawab pertanyaan spesifik saya.
Hari Suspensi Itu
Kembali ke pagi dengan layar merah itu.
Saya kirim email ke support. Mereka balas sehari kemudian dengan penjelasan yang samar — ada "aktivitas yang tidak sesuai dengan Terms of Service." Tidak disebutkan aktivitas apa secara spesifik.
Saya coba telusuri. Kemungkinan terbesar: saya pernah berkomunikasi dengan calon klien di luar platform untuk mendiskusikan scope proyek sebelum kontrak resmi dibuat. Itu memang melanggar aturan Upwork — mereka ingin semua komunikasi terjadi di dalam platform. Saya akui, saya tidak baca ToS dengan cukup teliti.
Tapi caranya — tanpa peringatan, tanpa kesempatan untuk klarifikasi, tanpa proses banding yang nyata — terasa sangat tidak proporsional.
Saya ajukan banding. Dibalas dengan template. Saya coba lagi. Template lagi. Setelah tiga kali mencoba dengan hasil yang sama, saya berhenti.
Ada momen di mana kamu harus memilih antara terus memperjuangkan sesuatu yang kemungkinannya tipis, atau mengalihkan energi itu ke sesuatu yang lebih produktif. Saya memilih yang kedua.
Apa yang Saya Lakukan Setelah Berhenti dari Upwork
Menariknya — ini yang tidak saya ekspektasikan — enam bulan setelah suspensi itu, penghasilan freelance saya justru lebih stabil dari sebelumnya.
Bukan karena platform lain lebih baik dari Upwork secara absolut. Tapi karena saya terpaksa melakukan sesuatu yang selama ini saya tunda: membangun klien langsung tanpa perantara platform.
Ini yang saya lakukan:
- Aktif menulis di blog — konten yang konsisten membawa calon klien yang menemukan saya lewat pencarian organik.
- Optimasi profil LinkedIn serius untuk pertama kalinya — mengisi semua bagian, minta rekomendasi dari klien lama, aktif posting insight di bidang saya.
- Bergabung komunitas freelancer yang aktif dan tidak malu-malu memperkenalkan diri serta layanan saya.
- Kirim email langsung ke brand yang relevan dengan niche saya — tanpa perantara, tanpa fee platform, tanpa biaya Connects.
Hasilnya: klien langsung tidak dipotong komisi 20% seperti di Upwork. Tidak ada risiko suspensi sepihak. Dan hubungan dengan klien jauh lebih personal dan jangka panjang.
Platform seperti Upwork berguna untuk memulai — tapi bergantung padanya sepenuhnya adalah risiko yang selama ini tidak saya kalkulasi dengan serius.
FAQ
Apakah akun Upwork yang disuspend bisa dipulihkan?
Apa alternatif Upwork yang lebih baik untuk freelancer Indonesia di 2026?
Apakah Job Success Score di Upwork bisa turun tanpa sebab jelas?
Berhenti Bukan Berarti Kalah
Kalau kamu sedang frustrasi dengan Upwork — entah karena suspensi, Connects yang habis, atau berbulan-bulan tanpa proyek — saya ingin bilang sesuatu yang dulu saya butuhkan:
Upwork adalah satu jalan, bukan satu-satunya jalan.
Dan seringkali, dipaksa keluar dari jalan yang kita sudah terlalu nyaman berjalan di atasnya adalah cara paling efektif untuk menemukan rute yang lebih baik.
Pengalaman saya di Upwork tidak sia-sia — ia mengajarkan cara berkomunikasi dengan klien internasional, cara menulis proposal yang efektif, dan cara membangun kepercayaan dengan orang yang belum pernah bertemu muka. Semua skill itu saya bawa keluar dari platform dan saya pakai di tempat lain.
Apakah kamu pernah punya pengalaman serupa dengan Upwork — atau platform freelance lainnya? Ceritakan di kolom komentar. Saya genuinely penasaran apakah pengalaman saya ini relate dengan yang kamu alami juga.
Dan kalau kamu sedang mencari jalan keluar dari ketergantungan pada platform dan ingin mulai membangun klien langsung — tinggalkan emailmu, saya akan kirimkan panduan yang saya pakai sendiri untuk transisi dari Upwork ke sistem klien independen.
Karena karier freelance yang sehat seharusnya tidak bergantung pada satu platform yang bisa menutup pintunya kapan saja tanpa permisi.




Posting Komentar